Rabu, 12 Oktober 2016

SIKLUS KEHIDUPAN SUKU MELAYU PETALANGAN DALAM TATARAN ADAT & BUDAYA

Dalam kehidupan suku Melayu Petalangan, siklus kehidupan penuh dengan tataran adat & budaya. Dimulai saat seorang anak dilahirkan, anak-anak, remaja,dewasa,tua, sampai meninggal dunia.

Berikut adalah siklus kehidupan suku Melayu Petalangan :
  1. Saat lahir.
  2. Saat anak-anak.
  3. saat remaja.
  4. saat dewasa.
  5. Saat tua
  6. Ketika meninggal dunia.
Berikut penjelasan singkat dari siklus tersebut :
  1. Saat lahir.
Ketika seorang anak lahir kedunia, maka ayahnya langsung diminta mengazankan/mengiqomahkannya( laki-laki di adzankan dan perempuan diiqomahkan). Menanam kakak/ari-ariLalu ada pula membayi hutang ale bidan, mandi kai,mamboi namo(memberi nama), dan kenduri kecil/besar tergantung niat/nazar orang tua si bayi.

      2. Saat anak-anak.
Usia anak-anak, biasanya diarahkan belajar mengaji di surau/langgar/di rumah guru mengaji dengan cara disoakan(diserahkan). Setelah tamat/khataam,diadakan syukuran kecil-kecilan.

      3. Saat remaja.
Usia remaja, seorang anak mulai diawasi pergaulannya. Tidak boleh keluar malam, diajarkan adat istiadat.

     4. Saat dewasa.
Ketika seorang anak sudah dewasa, mulailah orang tuanya mencarikan jodoh untuk anaknya(zaman dahulu). Unsur yang dipertimbangkan adalah hubungan kekerabatan. Seperti menikahkan anak dengan keponakan. Intinya dengan keluarga dekat yang bukan muhrimnya. Tujuannya adalah agar harta tidak pindah ke orang lain. Melainkan masih tetap pada keluarga besarnya.

     5. Saat tua
Ketika seseorang sudah memasuki usia tua, biasanya dijadikan panutan adat dan budaya serta sumber meminta petunjuk dalam persukuannya.

    6. Ketika meninggal dunia.

Ketika meninggal dunia, maka masyarakat berbondong-bondong takziah sambil membawa uang,bahan makanan,atau sekedar meramaikan. Intinya mereka berkumpul dan secara bersama-sama mempersipakan penguburan, sampai kendurinya juga secara sukarela dan penuh kebersamaan.
Di masyarakat suku Melayu Petalangan juga mengenal tradisi sadoka(sedekah). Yakni pihak keluarga almarhum/almarhumah mengadakan kenduri sambil berdoa. Tradisi ini ddimulai hari pertama kematian,kedua,ketiga,ketujuh,2x tujuh hari, hari ke 40,dan hari ke 100. Pada hari ke 100 diadakaanlah acara menambak. Yaitu memberi tanda nisan dari batu/kayu pada kuburan lamarhum/almarhumah.