Sabtu, 08 Oktober 2016

Kedudukan Monto(mantra) di Suku Melayu Petalangan


Mantra atau monto adalah bagian dari kebudayaan masyarakat suku Melayu Petalangan. Salah satu suku yang mendiami wilayah di Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau.Indonesia.

Mantra sendiri adalah jenis sastra lisan yang dipelihara dan disampaikan turun temurun kepada keturunannya.
Tentunya terbersit pertanyaan dalam hati, kok mantra dikatakan jenis sastra lisan?
Sastra lisan adalah jenis sastra yang mesti dihafalkan,berikut seninya,baitnya,dan harus persis seperti aslinya.

Berikut ini contoh mantra:

Mantra pemikat burung puyuh

Daun toap daun tontang
katigo pucuk simali-mali
ai baimbak imbang potang
bakumpul pikau puyu kamai

.............. dan seterusnya..

Mantra disebut bagian dari sastra itu semata-mata karena struktur mantranya berbentuk bait syair dan memiliki sajak tertentu.

Namun, mantra dalam masyarakat Melayu Petalangan bukan hanya sekedar sajak biasa. Mantra memiliki nilai magis karena mengandung kekuatan pada saat selesai diucapkan.

Jenis-Jenis mantra

Ada beberapa jenis mantra menurut peruntukannya. Yakni:
  1. Mantra Pengobatan. Merupakan jenis mantra yang berfungsi mengobati orang sakit, terutama penyakit nonmedis. Walaupun penyakit medis juga bisa menggunakan mantra ini. Tetapi dibantu dengan ramuan tertentu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
  2. Mantra Pekasih(pengasihan). Ini merupakan jenis mantra yang paling banyak dan paling digemari oleh sebagian besar masyarakat Melayu Petalangan. Fungsi utama mantra ini sebenarnya adalah sebagai penghapus rasa malu apabila terjadi penghinaan yang luar biasa yang didaapat oleh seseorang. Kegunaan lainnya adalah sebagai pengasihan umum,agar kelihatan menarik di depan umum.
  3. Mantra Pertahan Diri. Merupakan jenis mantra yang berguna bagi pertahanan diri seseorang. Bila seseorang melafalkan mantra(monto) ini, mereka tersugesti memiliki keberanian diri tampil di depan umum, berjalan di tempat sunyi atau pun di suatu forum.
  4. Mantra bercocok tanam. merupakan jenis mantra yang digunakan pada saat membuka lahan pertanian, memulai menanam padi,dan menuai.
  5. Mantra Pelaris(penglaris).Merupakan mantra yang digunakan untuk pelaris kedai,warung,toko,dan usaha lainnya.
Sampai saat ini, mantra masih merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Melayu Petalangan.

Mengenal bumbu masakan Melayu Petalangan

Dalam memasak makanan, masyarakat Melayu Petalangan mengenal aneka bumbu khas. DI antaranya adalah buah kulim, daun madang pawe, dasun, toung asam, asam kandi, asam galugu, asam biang, dan aneka bumbu yang dikenal pada umumnya masyarakat Indonesia. Seperti kunyit,daun kunyit, soai, dan bumbu lainnya.
Adapun yang menjadi ciri khas bumbu masakan Melayu Petalangan adalah toung asam,madang pawe, kulim, dan dasun.
Ke empat jenis bumbu ini biasa didapat dalam menu gulai asam pode,gulai balomak,dan pai ikan.
Demikianlah sekelumit tentang bumbu khas masakan Melayu Petalangan.