Jumat, 21 Oktober 2016

KAJI ASAL

MENGKAJI ASAL SEMULAJADI

Tumbuhan,hewan,alam semesta,dan yang lainnya mempunyai asal semulajadi. Kaji asal ini dalam masyarakat adat Melayu Petalangan digunakan untuk berbagai keperluan hidup. Di antaranya pengpbatan, pengasihan,guna-guna, dan yang lainnya.

Jika seseorang dapat mengkaji asal mula jadi sesuati, dia akan menguasai sesuatu itu.
Contoh: Bosi/besi merupakam bagian yang tak terpisah dari hidup manusia. Tapi tahukah pembaca, bahwa unsur besi juga ada di dalam tubuh manusia. 

Seorang pandai besi(tukang tompa), biasanya memiliki ilmu tentang kaji bosi(kaji besi) ini. Adapun kegunaannya adalah agar si pandai besi tidak binasa lahir dan batin saat menempa besi menjadi alat rumah tangga seperti parang,pisau pahat,pisau deres,pisau memasak,senjata,kampak,engrek,dan lainnya.

Ilmu kaji besi juga berguna untuk pengobatan lemah syahwat(mati angin). Hal ini bisa dimengerti. Sebab unsur besi bisa lemah di dalam tubuh. 

Kaji asal semulajadi juga dipergunakan untuk hal-hal lainnya.

Pada kesempatan lain,penulis akan paparkan di sini sebagai penambah wawasan pembaca.

Sabtu, 15 Oktober 2016

PUSAT BUDAYA MELAYU PETALANGAN

Pusat Budaya Melayu Petalangan ini berada di Desa Betung Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.

Adapun jarak dari ibu kota kecamatan sekitar 14 kilo meter. Sekitar 10 km jalannya belum diaspal. Jalannya berupa jalan kerikil. Sedangkan jarak dari ibu kota kabupaten sejauh kurang lebih 50 km. Bila diukur dari ibu kota Provinsi Riau,yakni Kota Pekanbaru, jarak Pusat Budaya Petalangan ini sekitar 124 km.

Berikut  ini foto-foto yang penulis ambil beberapa waktu yang lalu :

Balai tempat kerajinan tangan

Balai Putih Lindung Bulan

Jembatan ke lokasi Balai Ptih Gunjung Laut

Balai Putih Gunjung Laut

Menuju Balai Musyawarah Balai Putih Gunjung Laut

Tampak depan. Balai Putih Gunjung Laut

Motif ukiran Balai

Nama Balai

Teras Balai Putih Gunjung Laut

Dalam Balai Putih Gunjung Laut

Sampan. Alat Transportasi Suku Melayu Petalangan

Tiang Penyangga Balai berwarna Hijau

Tiang Penyangga Balai berwarna Putih

Tiang Penyangga Balai berwarna Hitam

Tiang Penyangga Balai berwarna Kuning

Tiang Penyangga Balai berwarna Merah

Danau Betung. Venue diambil dari atas Balai Putih Gunjung Laut

Teras Balai Putih Gunjung Laut

Rumah Tinggal Bernuansa Melayu

Rumah Tinggal Bernuansa Melayu

Tampak Samping Rumah Tinggal

Tampak dari kejauhan. Balai Putih Gunjung Laut

Pohon Pulai. Merupakan Pohon yang banyak tumbuh di wilayah Provinsi Riau

Museum Tuk Monti
Tempat menyimpan peninggalan Suku Melayu Petalangan

Museum Tuk Monti
Tempat menyimpan peninggalan Suku Melayu Petalangan

Museum Tuk Monti
Tempat menyimpan peninggalan Suku Melayu Petalangan

Museum Tuk Monti
Tempat menyimpan peninggalan Suku Melayu Petalangan

Museum Tuk Monti
Tempat menyimpan peninggalan Suku Melayu Petalangan

Museum Tuk Monti
Tempat menyimpan peninggalan Suku Melayu Petalangan

Rumah Tinggal
Nampak dari kejauhan

Sampan. Alat transportasi Suku Melayu Petalangan

Jamban
Tempat mandi dan mencuci apakaian dan alat rumah tangga

Jembatan Penghubung

Eksotis
Balai Kerapatan Adat Suku Melayu Petalangan
Balai Putih Gunjung Laut

Pusat Budaya

Plang Pusat Budya Petalangan
Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga
Kabupaten Pelalawan

Plang Pusat Budya Petalangan
Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga
Kabupaten Pelalawan

Rabu, 12 Oktober 2016

SIKLUS KEHIDUPAN SUKU MELAYU PETALANGAN DALAM TATARAN ADAT & BUDAYA

Dalam kehidupan suku Melayu Petalangan, siklus kehidupan penuh dengan tataran adat & budaya. Dimulai saat seorang anak dilahirkan, anak-anak, remaja,dewasa,tua, sampai meninggal dunia.

Berikut adalah siklus kehidupan suku Melayu Petalangan :
  1. Saat lahir.
  2. Saat anak-anak.
  3. saat remaja.
  4. saat dewasa.
  5. Saat tua
  6. Ketika meninggal dunia.
Berikut penjelasan singkat dari siklus tersebut :
  1. Saat lahir.
Ketika seorang anak lahir kedunia, maka ayahnya langsung diminta mengazankan/mengiqomahkannya( laki-laki di adzankan dan perempuan diiqomahkan). Menanam kakak/ari-ariLalu ada pula membayi hutang ale bidan, mandi kai,mamboi namo(memberi nama), dan kenduri kecil/besar tergantung niat/nazar orang tua si bayi.

      2. Saat anak-anak.
Usia anak-anak, biasanya diarahkan belajar mengaji di surau/langgar/di rumah guru mengaji dengan cara disoakan(diserahkan). Setelah tamat/khataam,diadakan syukuran kecil-kecilan.

      3. Saat remaja.
Usia remaja, seorang anak mulai diawasi pergaulannya. Tidak boleh keluar malam, diajarkan adat istiadat.

     4. Saat dewasa.
Ketika seorang anak sudah dewasa, mulailah orang tuanya mencarikan jodoh untuk anaknya(zaman dahulu). Unsur yang dipertimbangkan adalah hubungan kekerabatan. Seperti menikahkan anak dengan keponakan. Intinya dengan keluarga dekat yang bukan muhrimnya. Tujuannya adalah agar harta tidak pindah ke orang lain. Melainkan masih tetap pada keluarga besarnya.

     5. Saat tua
Ketika seseorang sudah memasuki usia tua, biasanya dijadikan panutan adat dan budaya serta sumber meminta petunjuk dalam persukuannya.

    6. Ketika meninggal dunia.

Ketika meninggal dunia, maka masyarakat berbondong-bondong takziah sambil membawa uang,bahan makanan,atau sekedar meramaikan. Intinya mereka berkumpul dan secara bersama-sama mempersipakan penguburan, sampai kendurinya juga secara sukarela dan penuh kebersamaan.
Di masyarakat suku Melayu Petalangan juga mengenal tradisi sadoka(sedekah). Yakni pihak keluarga almarhum/almarhumah mengadakan kenduri sambil berdoa. Tradisi ini ddimulai hari pertama kematian,kedua,ketiga,ketujuh,2x tujuh hari, hari ke 40,dan hari ke 100. Pada hari ke 100 diadakaanlah acara menambak. Yaitu memberi tanda nisan dari batu/kayu pada kuburan lamarhum/almarhumah.

Senin, 10 Oktober 2016

PROSESI MEMINANG

PROSESI PRA MEMINANG DALAM SISTEM KEBUDAYAAN MELAYU PETALANGAN

Masyarakat Melayu petalangan sangat memegang prinsip adat istiadat. Salah satunya adalah prosesi melamar calon mempelai wanita.
Sebelum melamar, orangtua calon mempelai pria terlebih dahulu mendatangi orangtua calon mempelai wanita.
Di sana orangtua calon mempelai pria akan menanyakan secara langsung perihal anaka gadisnya. Apakah sudah ada yang bakal melamar atau belum. Bila sudah ada yang melamar, maka keluarga pihak laki-laki tidak jadi melamar. Hal ini dilaksanakan agar mendapat kepastian dan tidak terjadi sesuatu hal nantinya. Proses ini dinamakan MANJAUM.

Ketika orangtua calon mempelai pria atau pihak laki-laki datang ke rumah pihak perempuan,bukan berarti pembicaraan langsung mengenai anak gadis nya. Melainkan mereka ngobrol terlebih dahulu. Berbagai hal dibicarakan saat itu. Mulai soal ladang,ternak, mencari ikan,rotan, atau hal laninya. Di sinilah uniknya. Biasanya sistem ini sering mempertemukan antara keluarga yang masih ada kaitannya secara adat, tapi bukan muhrimnya.

SISTEM KEKERABATAN SUKU MELAYU PETALANGAN

SISTEM KEKERABATAN MASYARAKAT SUKU MELAYU PETALANGAN
            Masyarakat suku  Melayu Petalangan,  sistem kekerabatannya adalah menggunakan sistem suku. Sistem yang dipakai adalah MATRILINEAL. Artinya dalam garis persukuannya mengikuti garis keturunan ibu.
Suku-suku yang ada diantaranya; pematan,pelabi, sangoi(sengeri), payung, sungai modang, lubuk, penyabung,paneling penghulu setio,paneling,penghulu putik,dan paliang.
            Suku bukan hanya sekedar hiasan. Tapi juga sebagai penentu garis keturunan dalam adat. Dalam sistem adat Melayu Petalangan, adalah pantang besar bila ada seseorang yang menikah dengan pasangan lawan jenisnya yang masih satu suku. Bila ini terjadi, maka akan ada denda adat. Di samping itu, mereka yang melanggar larangan menikah sesuku ini, dibuang dari persukuannya. Filosofinya bukan dibuang sungguhan. Tapi dia tak lagi punya hak suara bila ada musyawarah di dalam sukunya.
            Kenapa demikian? Orang yang berani melanggar adat, berarti dia tidak lagi mau menegakkan panji adat. Lagi pula, bila seseorang menikah dengan pria/wanita satu suku dengannya, jika ditarik garis keturunannya masih ada hubungan kekerabatan.
            Nikah sesuku beraarti merusak hubungan kekerabatan. Adalah beda jika seseorang menikah di luar sukunya. Berarti dia menambah hubungan kekerabatan dengan suku lain. Secara otomatis kerabat dan handai taulannya bertambah.
            Keluarga inti dalaam masyarakat Melayu Petalangan tetap ayah,ibu,dan anak. Tapi keluarga besarnya meliputi:
Keturunan ke bawah berarti cucu,cicit, piut.
Ketururan ke atas meliputi atan/kakek dan ino/nenek( kedua orang tua ayah dan ibu dan seterusnya.
            Akhir-akhir ini sudah ada beberapa generasi muda yang melanggar larangan nikah satu suku ini. Dalam Agama Islam,tidak ada larangannya. Tapi dalam sistem adat tentu saja dilarang. Memelihara adat berarti memelihara warisan budaya nenek moyang. Sangat disayangkan jika suatu ketika adat istiadat Melayu Petalangan sirna. Padahal masyarakat adat Melayu Petalangan dengan segala keunikannya telah menarik peneliti-peneliti dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri untuk mengeksplorasi keragaman adat dan budaya Melayu Petalangan.
            Melestarikan adat berarti melestarikan keragaman budaya. Budaya merupakan daya tarik wisata dan penelitian sosial budaya Bangsa lain.
            Sistem kekerabatan Suku Melayu Petalangan yang sangat unik,jangan sampai hilang. Kelak keunikan-keunikan inilah yang menjadi daya tarik peminat wisata sosial dan budaya dari luar negeri.


Minggu, 09 Oktober 2016

MENGENAL SALAI IKAN SELAIS

Ikan selais adalah primadona para nelayan di Provinsi Riau, tak terkecuali di Kabupaten Pelalawan. Bagi masyarakat Petalangan,ikan ini tergolong ikan yang paling istimewa. Kenapa tidak, jika telah jadi ikan salai, harganya bisa mencapi Rp.200.000,00/kg. Itu untuk pasar lokal. Jika telah sampai ke kota besar, maka harganya bisa lebih tinggi dari itu.

Bagi masyarakat Melayu Petalangan yang berprofesi sebagai nelayan, ikan ini lebih sering disalai,karena di samping tahan lama, harganya menjadi berlipat-lipat. Dari harga Rp 30.000 s.d Rp.60.000 per kg saat basah, jika jadi ikan salai,maka harganya meningkat sampai 3 x lipat.

Bila anda berkunjung ke Provinsi Riau,khususnya Kabupaten Pelalawan,terutama di daerah Melayu Petalangan,jangan lupa membeli oleh-oleh ikan salai selais.

WATAK MANUSIA MENURUT URUTAN KELAHIRAN

Masyarakat Melayu Petalangan memiliki ilmu peramalan watak manusia menurut urutan lahir. Urutan dihitung hanya pada anak yang dilahirkan oleh ibu yang sama.
Ada empat anasir yang dipakai,yakni AIR,API,ANGIN,dan TANAH.

  1. Anak pertama memiliki anasir AIR. Sifat anak beranasir air ini adalah cerdas, tidak gampang marah. Tapi jika marah,kemarahannya sangat besar. Anasir air sebaiknya berjodoh dengan anasir Api,dan tanah.
  2. Anak kedua memiliki anasir API. Sifat anak beranasir api ini sensitif, mudah tersinggung. Jodoh yang cocok adalah anak pertama dan ke empat. Kurang cocok dengan anak kedua yang beranasir Angin.
  3. Anak ketiga memiliki anasir ANGIN. Sifat anak beranasir angin ini juga sensitif, tapi cepat reda. Jodohnya kurang cocok dengan anak kedua yang beranasir API.
  4. Anak keempat memiliki anasir TANAH. SIfat anak beranasir tanah ini adalah paling penyabar. Tapi jika marah, akan sangat bahaya. Sesuai dengan watak bumi. Anak keempat ini cocok dengan anak urutan mana saja.
Demikianlah sekelumit sisi sosial budaya masyarakat Melayu Petalangan. Yang perlu diingat adalah, ramalan ini hanya menentukan watak seseorang dilihat dari anasir yang diurut sesuai urutan kelahiran. Analisa lebih lanjut bisa mengkaji anasir yang disematkan pada seseorang, yakni AIR. Air seperti apa,bisa dipahami wataak air secara komprehensif. Begitu juga API,ANGIN,dan tanah. Keempat unsur ini merupakan bahan pembentuk manusia. AIR membentuk otot,daging,dan tulang, API membentuk panas tubuh. ANGIN membentuk nafas manusia. Sedangkan TANAH, merupakan asal muasal raga manusia diciptakan pertama kali. 
Nah, unsur manakah yang paling dominan pada diri seseorang, maka unsur itulah yang mempengaruhi emosi seseorang. Namun, segala sesuatu terpulang pada upaya pengendalian diri seseorang,dan yang paling penting, Tuhan lah yang menetukan sebenarnya setiap watak manusia.

BLACAN

Tentunya nama ini tidak asing di telinga masyarakat Melayu umumnya,khususnya masyarakat Melayu Petalangan Provinsi Riau.Indonesia. 
BLACAN, Itulah namanya. Merupakan jenis lauk/bumbu masakan khas yang berwarna merah dan coklat muda. Baunya sangat khas. Dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan nama terasi. Tapi belacan di Bumi Petalangan itu sangat khas. Digunakan oleh penduduk sebagai lauk. bisa dibakar atau pun dijadikan sambal.
Bicara sambal BLACAN, rasanya tidak afdol jika tidak penulis tulis resep sambal belacannya di kesempatan ini.
Berikut resepnya ;

TOUNG ASAM SAMBAL BALACAN

Bahan-bahan :

  1. Belacan satu sendok makan (dibakar di atas bara api) dengan dibungkus dulu pakai daun kunyit.
  2. Lado kampung 20 butir. Usahakan beberapa butir ada yang sudah masak buahnya.
  3. bawang dasun 4 batang.
  4. Toung asam yang sudah masak 2 butir.
  5. Garam secukupnya
  6. Penyedap rasa secukupnya


LANGKAH-LANGKAHNYA :

  • Bakar dahulu belacan yang telah dibungkus daun kunyit.
  • Giling lado kampung di gilingan cabe sampai halus.
  • masukkkan garam,penyedap rasa,dan bawang dasun. Giling sampai halus bersama cabe/lado.
  • Masukkan belacan yang sudah dibakar tadi. Giling bersama lado kampung,garam,penyedap,bawang dasun sampai merata.
  • Bersihkan kulit luar toung asam(terung asam),lalu potong dua bagian. Peras di atas gilingan cabe. Aduk dengan menggunakan pengaduk gilingan cabe.
  • Hidangkan di atas piring tipis dengan ditemani nasi panas, rebus terung, rebus pucuk ubi, dan aneka lalapan.


ORANG BUNYIAN ANTARA ADA DAN TIADA

Dalam masyarakat Melayu Petalangan, terutama orang-orang tua zaman dahulu, dipercaya ada kehidupan tidak kasat mata yang hidup dan berkembang biak layaknya manusia.
Kehidupan itu seolah-olah persis yang dialami manusia. 
Masyarakat Suku Melayu Petalangan menamainya dengan ORANG BUNYIAN. 
Menurut kepercayaan suku Melayu Petalangan, orang bunyian merupakan sosok layaknya manusia. Tapi mereka tidak dapat dijumpai oleh orang biasa. Mereka hidup di sekitar alam Masyarakat Melayu Petalangan.
Sahabat BUPET, sampai disini dulu kisah orang bunyian ini. Lain kali kita bahas lagi ya?

Sabtu, 08 Oktober 2016

Kedudukan Monto(mantra) di Suku Melayu Petalangan


Mantra atau monto adalah bagian dari kebudayaan masyarakat suku Melayu Petalangan. Salah satu suku yang mendiami wilayah di Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau.Indonesia.

Mantra sendiri adalah jenis sastra lisan yang dipelihara dan disampaikan turun temurun kepada keturunannya.
Tentunya terbersit pertanyaan dalam hati, kok mantra dikatakan jenis sastra lisan?
Sastra lisan adalah jenis sastra yang mesti dihafalkan,berikut seninya,baitnya,dan harus persis seperti aslinya.

Berikut ini contoh mantra:

Mantra pemikat burung puyuh

Daun toap daun tontang
katigo pucuk simali-mali
ai baimbak imbang potang
bakumpul pikau puyu kamai

.............. dan seterusnya..

Mantra disebut bagian dari sastra itu semata-mata karena struktur mantranya berbentuk bait syair dan memiliki sajak tertentu.

Namun, mantra dalam masyarakat Melayu Petalangan bukan hanya sekedar sajak biasa. Mantra memiliki nilai magis karena mengandung kekuatan pada saat selesai diucapkan.

Jenis-Jenis mantra

Ada beberapa jenis mantra menurut peruntukannya. Yakni:
  1. Mantra Pengobatan. Merupakan jenis mantra yang berfungsi mengobati orang sakit, terutama penyakit nonmedis. Walaupun penyakit medis juga bisa menggunakan mantra ini. Tetapi dibantu dengan ramuan tertentu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
  2. Mantra Pekasih(pengasihan). Ini merupakan jenis mantra yang paling banyak dan paling digemari oleh sebagian besar masyarakat Melayu Petalangan. Fungsi utama mantra ini sebenarnya adalah sebagai penghapus rasa malu apabila terjadi penghinaan yang luar biasa yang didaapat oleh seseorang. Kegunaan lainnya adalah sebagai pengasihan umum,agar kelihatan menarik di depan umum.
  3. Mantra Pertahan Diri. Merupakan jenis mantra yang berguna bagi pertahanan diri seseorang. Bila seseorang melafalkan mantra(monto) ini, mereka tersugesti memiliki keberanian diri tampil di depan umum, berjalan di tempat sunyi atau pun di suatu forum.
  4. Mantra bercocok tanam. merupakan jenis mantra yang digunakan pada saat membuka lahan pertanian, memulai menanam padi,dan menuai.
  5. Mantra Pelaris(penglaris).Merupakan mantra yang digunakan untuk pelaris kedai,warung,toko,dan usaha lainnya.
Sampai saat ini, mantra masih merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Melayu Petalangan.

Mengenal bumbu masakan Melayu Petalangan

Dalam memasak makanan, masyarakat Melayu Petalangan mengenal aneka bumbu khas. DI antaranya adalah buah kulim, daun madang pawe, dasun, toung asam, asam kandi, asam galugu, asam biang, dan aneka bumbu yang dikenal pada umumnya masyarakat Indonesia. Seperti kunyit,daun kunyit, soai, dan bumbu lainnya.
Adapun yang menjadi ciri khas bumbu masakan Melayu Petalangan adalah toung asam,madang pawe, kulim, dan dasun.
Ke empat jenis bumbu ini biasa didapat dalam menu gulai asam pode,gulai balomak,dan pai ikan.
Demikianlah sekelumit tentang bumbu khas masakan Melayu Petalangan.

Senin, 03 Oktober 2016

Sastra Lisan Dalam Masyarakat Melayu Petalangan

Masyarakat Melayu Petalangan memiliki tradisi unik turun temurun. Salah satunya adalah mendongeng( Bacito). Saat yang paling disukai adalah ketika berkumpul dengan keluarga. Tradisi ini menjadikan simpul untuk perekat keakraban antar keluarga. 
Kemampuan mendongeng masyarakat Melayu Petalangan diturunkan sebagian besar dari ibu ke anaknya. Kenapa demikian ? Sebab seorang anak jauh lebih dekat kepada ibunya. Walaupun tidak semua dongeng diwariskan dari ibu. Ada juga dongeng itu diwariskan dari Ayahnya.
Ada berbagai jenis sastra lisan dalam masyarakat Melayu Petalangan. Di samping dongeng, ada juga hikayat, contohnya hikayat malim dewa. 
saat - saat terindah yang dialami penulis adalah ketika penulis masih anak-anak. Setiap kali penulis disuruh memijit kaki ibu dan ayah penulis, mereka bercerita atau mendongeng. Dalam satu kali memijit, bisa jadi satu atau dua dongeng diceritakan.
Beda lagi pada saat penulis meminta orang tua menyanyikan hikayat. Beliau biasanya tidak sambil dipijat kakinya. Tapi sambil duduk-duduk di rumah.
Sastra lisan bagi suku Melayu Petalangan merupakan warisan nenek moyang. Tapi, melihat perkembangan zaman,cepat atau lambat,warisan budaya Sastra Lisan ini akan sirna. 
Semoga generasi penerus masyarakat Melayu Petalangan bisa menggali, menelaah,mengarsipkan serta melestarikan Sastra Lisan ini agar tetpa menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia .

Minggu, 02 Oktober 2016

MENU GULAI SALAI SELAIS

Salah satu produk makanan khas melayu petalangan Kabupaten Pelalawan adalah Salai selais.
Kali ini penulis akan bagikan cara membuat GULAI SELAIS KHAS PELALAWAN.

Bahan:
  • salai Ikan selais 2 ons
  • terong asam secukupnya(sesuai selera) atau bisa diganti dengan asam gelugur/asam kandis
  • 1 batang serai
  • santan dari 1 butir kelapa
  • garam secukupnya
  • penyedap rasa secukupnya
  • cabe rawit putih/cabe kampung sesuai selera dan tingkat kepedasan yang kita ingnkan
  • bawang merah/ bawang daun(kucai).ini tergantung selera juga.
  • kunyit 5 cm
  • daun kunyit secukupnya
cara memasak:
  • giling cabe, bawang merah,kunyit,dan garam sampai halus.
  • memarkan serai
  • masukkan bumbu yang telah dihaluskan tadi ke dalam kuali dan dicampur dengan air santan.
  • masukkan juga batang serai,daun kunyit,dan asam, aduk hingga menggelegak.
  • setelah kuahnya matang, baru masukkan ikan salai selaisnya.
 tips: jangan masukkan ikannya pada awal-awal memasak karena ikannya bakal hancur.
         pada saat membeli salai ikan selais, pilih yang masih segar dengan bau khas ikan salai.



    N.B... Bila pembaca penasaran dan ingin merasakan masakan salai selais,silahkan berkunjung Ke Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau..